Oleh : saripuddin

Awal munculnya postcolonial sebagai wacana, muncul pada saat eropa genjar menjajah wilyah dibelahan bumi. Penjajahan yang dimaksud tidak saja penjajahan fisik penduduknya, tapi juga meliputi penjajahan budaya yang menjadikan eropa sebagai imperium budaya dunia. Atas dasar itu teori poskolonial hadir untuk memberikan kritik dan penentangan dari semua bentuk penjajahan dimuka bumi. Poskolonial memberikan kesadaran akan pentingnya identitas kebangsaan, pentingnya nilai-nilai kemerdekaan dan humanisme.

Namun tugas post-kolonial yang seharusnya mampu memberikan kritik dan memberikan penjelasan secara teoritis mengenai segala macam penjajahan kini menjaadi duolisme yang mendukung keduanya. Hal ini dapat kita simak dari pembelaanya terhadap pemeliharaan bangunan-bangunan tua peninggalan penjajah. Saya rasa itu sangat mengingkari janjinya untuk selalu mengkritik adanya penjajahan, baik itu penjajahan fisik sampai penjajahan budaya.

Salah satu yang dibela postkolonial adalah simpatinya terhadap peninggalan-peninggalan budaya penjajah seperti keberadaan bangunan atau arsitektur lama. peninggalan penjajah oleh postkolonial dibela untuk dirawat dan dipelihara, oleh karenanya banyak peninggalan-peninggalan penjajah yang masih menjajah Negara yang sudah merdeka secara fisik, namun tidak secara budaya. Lihat saja banguanan-bangunan arsitektur peninggalan Belanda di Indonesia masih berdiri kokoh diantara rumah-rumah penduduk yang kumuh, lambat laun banyak orang meniru dan mengadopsi bagunan eropa untuk arsitektur rumahnya.

Gaya bangunan Eropa kini telah menjadi trend mengalahkan arsitektur Indonesia, pikir saja kebanyakan bangunan-bangunan bergaya eropa dianggap mewah, dan disisi lain bangunan-bangunan bercorak lokal semakin tidak diminati. Akibatnya banyak gaya arsitektur dalam negeri tersingkirkan oleh budaya eropa, mekin lama imeg orang Indoneia akan terjajah yang selalu menempatkan gaya eropa sebagai yang nomer satu.

Yang mengherankan postkolonial menjelaskan alasan yang tidak masuk akal atas pembelaannya melawan lupa. Lalu apakah lupa yang dimaksud adalah suatu penjajahan terhadap kehidupan manusia, tentu saja tidak karena lupa adalah proses alamiah. Secara sosiologis alasan untuk melawan lupa kurang ilmiah karena keberadaannya berada dibawah alam sadar kita, sama saja kita membicarakan alam gaib yang tidak bisa kita amati.


1 Response to “POST KOLONIAL”


  1. 1 cheppy
    1 Desember 2010 pukul 3:39 am

    Ya, tidak hanya dalam bentuk rumah-rumah/bangunan2 tetapi juga, gaya hidup, pola pikir bahkan makanan yang sering kita makan sehari-hari, makanan khas indonesia telah tertutupi oleh burger, pizza, dan makanan lain yang berasal dari barat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Salam Kritis

Mau berbagi pengalaman, membahas teori-teori sosial, atau sekedar berkenalan untuk bersahabat. Ditunggu....

terisi21@yahoo.com

Semoga bisa membantu.

SOSIOLOGI

Klik tertinggi

  • Tak ada

Blog Stats

  • 206,790 hits

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 11 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: