08
Sep
09

Kritik : Fatwa MUI Tentang Haram Mengemis.

MUI mau mengeluarkan fatwa mengemis, MUI Sumenep Madura telah terlebih dulu menetapkan fatwa haram. Ini merupakan pukulan yang keras sampai mengguncang ulu hati si pengemis, miris yang membuat rakyat kelas paling bawah ini menangis. MUI pusat sedang mempertimbangkan fatwa haram mengemis, detik demi detik simiskin menunggu was-was apa jadinya nanti.

Berapa banyak orang yang benar-benar miskin terdzolimi oleh fatwa itu, kalau memang MUI atau pemerintah tidak bisa mengurusi mereka semua jangan dulu buat fatwa kalau memang sudah mampu menjamin kualitas hidup mereka lebih baik tidak masalah. Lah, kalau melihat realitas sekarang memang keadaanya mencari kerja susah, toh pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan kerja, justru sebaliknya PHK dimana-mana, penggusuran dan mala bencana dimana-mana. sebaiknya MUI tidak boleh dijadikan barometer dalam peraturan pemerintah, toh Indonesia bukan negara Islam.

Intinya bukan fatwa yang diutamakan tapi aksi, akasi-aksi yang kongkrit dalam mengahapus kemiskinan. Silahkan MUI berjuang memotivasi umat, menyediakan lapangan kerja, kalau tidak bisa jangan bikin rakyat makin sengsara. Kebenaran itu relatif, Allah lah yang lebih tahu mana yang diridhoiNya.

Zakat melalui lembaga resmi mulai dikampanyekan, orang tidak lagi bisa bersedekah disembarang tempat bisa-bisa ia kena tangkap. Sungguh merupakan masalah yang akan menimbulkan masalah. Mengingat masyarakat Indonesia belum terbiasa, tidak mudah membiasakan hal baru bersedekah hanya ditempat-tempat tertentu. Apalagi kepercayaan masyarakat terhadap lembaga yang mulai berkurang karena maraknya korupsi termasuk lembaga agama yang akhir-akhir ini menduduki urutan teratas terkait masalah korupsi.

Orang bersedekah karena akan meningkatkan citranya dimasyarakat, karenanya lebih suka bersedekah secara langsung kepada pengemis-pengemis jalanan agar terlihat. Tepat sasaran atau tidaknya merupakan masalah tekhnis karena orang menilainya dari niat tanpa memperdulikan sandiwara simiskin, apakah ia benar-benar miskin atau tidak. Harusnya mengemis itu dilarang bagi orang-orang kaya saja, bagi yang ketahuan berkehidupan mapan maka dia patut ditangkap setara dengan korupsi kelas teri. Terlebih pengemis uang rakyat yang duduk di Senayan, yang banyak memakan anggaran milyaran rupiah lebih pantas diharamkan.

Saripuddin

Mahasiswa Sosiologi Fakultas Sosial Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


0 Responses to “Kritik : Fatwa MUI Tentang Haram Mengemis.”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Salam Kritis

Mau berbagi pengalaman, membahas teori-teori sosial, atau sekedar berkenalan untuk bersahabat. Ditunggu....

terisi21@yahoo.com

Semoga bisa membantu.

SOSIOLOGI

Klik tertinggi

  • Tak ada

Blog Stats

  • 206,790 hits

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 11 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: