26
Nov
08

100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL, SUATU PERAYAAN TANPA KEMENANGAN

Peringatan kebangkitan nasional seringkali hanya dijadikan momen formalitas untuk memperingati sejarah kebangkitan dimasa lampau. Namun momen ini tidak benar-benar membuat masyarakat Indonesia bangkit dan melawan bentuk-bentuk penjajahan. Setidaknya kita masih dijajah dalam beberapa aspek oleh bangsa lain, bahkan oleh orang-orang kita sendiri. Bentuk-bentuk penjajahan tidak kita sadari lebih parah dari keadaan penjajahan yang sebenarnya. Penjajahan meliputi penjajahan secara ekonomi yang membuat bangsa ini miskin dan dililit hutang. Kemiskinan itu bentuk dari kemiskinan intelektual hingga menjadikan bangsa ini miskin juga dalam bentuk material. Bangsa yang kaya akan sumber daya alam justru tidak mampu mengelola harta kekayaan yang kita punya.

Secara ekonomi semenjak dulu bangsa ini terus dijajah, coba kita renungkan berapa banyak kekayaan alam yang dikeruk dari keuntungan melimpah ruah ditangan para Negara kapitalis global.

Ditengah melimpahnya sumber daya alam mineral, Indonesia masih terjebak kekurangan bahan mineral, padahal lebih dari cukup persediaan seharusnya mampu mencukupi kebutuhan masyarakat. Bentuk imprealis yang menakutkan, lihat akibat yang ditimbulkan, bayak masyarakat antri membutuhkan minyak ditengah banyaknya kilang minyak yang tersebar diseluruh nusantara. Pemadaman listrik karena kekurangan stok batu bara padahal stok batu bara melimpah. Juga tambang emas di Papua yang diklola PT Prifot jelas merupakan bentuk penjajahan ekonomi yang merugikan. Tambang timah bahkan air dikuasai imprealis kapitalis global.

Kekayaan yang kita punya tidak cukup membuat masyarakat Indonesia bahagia dan berbangga hati, justru kekayaan alam telah mengundang banyak imprealis masuk ke Indonesia. Hal yang paling menyedihkan beberapa waktu lalu masih ada saja rakyat yang mati kelaparan, sungguh bangsa yang ironi. Fenomena-fenomena ironis yang lain, busung lapar, mati kelaparan, antrian minyak tanah, perdagangan manusia, dan banyak hal lain yang berlawanan dengan harapan.

Penjajahan cukup luas, merampas bayak aspek yang membuat Negara tidak berdaya, negara hanya dapat menyaksikan masyarakat sengsara terbawa arus imprealis budaya barat. Pejajahan budaya banyak kita temui dimana-mana menjadikan budaya kita tersingkir, apa yang dibangun oleh ketidaktahuan masyarakat sungguh mengerikan.

Gaya hidup kebarat-baratan yang mengatas namakan modernisasi adalah salah satu wujud kemiskinan intelektual bangsa, hingga terus dijajah secara budaya dan ekonomi.

Produk yang ditawarkan adalah produk kapitalis global dan itu telah berhasil menjajah jutaan penduduk bangsa ini. Dari segi mental, budaya, ekonomi, dan politik masyarakat dijajah melalui media. Menjamurnya perusahaan asing yang telah membuat bangkrut perusaan lokal adalah bukti konkrit bentuk penjajahan secara ekonomi. Mungkin orang Indonesia lebih suka makan di restoran siap saji seperti KFC atau Mcdanol dari pada makan di restoran lokal. Hal itu mampu mengahapus rasa nasionalisme masyarakat, secara tidak langsung kita memilih membela penjajah dari pada membela pengusaha lokal yang sedang berjuang menumbuhkan perekonomian nasional. Lalu dimana rasa nasionalisme kita?

Hibriditas yang mengidentifikasikan budaya dan identitas selalu merupakan pertemuan dan percampuran berbagai kebudayaan dan identitas yang berbeda hingga terjadi percampuran yang mengaburkan mana asli dan mana yang “aspal”. Produk-produk barat masih mendominasi, bukti kita masih dijajah secara sadar, kita sudah mengalami ketergantungan terhadap budaya pop. Apa-apa serba meniru budaya pop, MTV, NBA, Coca Cola, KFC, Nike, American Idol, dan masih banyak lagi yang lain.

Coba bayangkan betapa kesenjangan telah terjadi begitu curam, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin tersingkir, yang gaya makin gaya walau tidak punya kekayaan rela menjual diri demi mengikuti gaya budaya pop. Tua muda berpesta walau ditengah masyarakat yang penuh kemiskinan, pernikahan yang menghabiskan uang milyaran rupiah ditengah kehidupan rakyat miskin yang tidak mampu membeli sesuap nasi. Mereka masih terus berpesta pora mengikuti mode yang terus berkembang, entah apa yang dirayakan dari sekian banyak kemewahan, pesta berjuta masyarakat Indonesia. Budaya pop wujud dari imprealisme global telah menjadikan masyarakat berpola hidup heidonis. Berpesta tanpa ada suatu kemenangan, berpesta hanya demi kesenangan untuk lari dari kenyataan.

Kemenangan apa yang didapat dari perayaan, bahkan pada momen kebangkitan nasional banyak orang mengadakan pesta dan perayaan dalam berbagai macam bentuk perayaan. Kebangkitan sudah menjadi tradisi untuk memperingati secara ceremonial tanpa ada perjuangan konkrit untuk mempertahankannya dari penjajahan yang sebenarnya. Saat ini banyak orang terpecah belah mempertahankan kepentingannya masing-masing. Sekali lagi bahwa itu adalah imbas dari “budaya pop”, banyak orang memperjuangkan materi demi tujuan yang dimaksud. Tujuan tidak lain adalah produk budaya pop. Hal itu yang memicu perpecahan dimana orang-orang terpecah untuk mendapatkan kepentingannya masing-masing. Fenomena tersebut membawa orang untuk korupsi (yang kemarin gempar). Hal ini dapat melanda siapa saja, apalagi masyarakat awam. Ditengah menggiurkannya budaya pop yang menawarkan sejuta kenikmatan dunia, orang akan berani melakukan apa saja demi tercapainya sebuah maksud.

Apa yang kita bangkitkan dari peristiwa sejarah ini, apa arti kebangkitan nasional yang kita peringati selama seratus tahun berlalu. Bangkitnya bangsa ini selama seratus tahun yang silam sudah dilupakan oleh generasi masa kini. Bahkan rasa nasionalis seperti apa yang harus mereka perjuangkan mereka tidak tahu. Generasi muda masa kini telah bahagia dijajah, walaupun mereka tidak menyadari penjajahan apa yang sedang menjajah mereka. Sudah sekian lama bangsa Indonesia terjajah, rupanya telah menyisakan mental terjajah yang sangat bertentangan dengan cita-cita dan harapan kebangkitn nasional

Bagaimana melawan bentuk imprealisme yang digencarkan Negara kapitalis saat ini, salah satu cara adalah menggunakan produk budaya sendiri. Tidak terpancing oleh imej yang dibangun media masa yang sering kali menjajah pikiran dan mental. Secara mendasar bangsa ini telah terjebak pada budaya global yang menghilangkan jati diri bangsa Indonesia.

Jika dulu perlawanan Boedi Otomo dan masyarakat Indonesia mengusir penjajah dengan senjata maka kali ini dengan memperingati kembali kebangkitan nasional kita bangkit dan melawan bentuk imprealis yang bentuknya tidak nampak oleh mata, hal-hal seperti yang sudah disebutkan diatas seperti penjajahan budaya, ekonomi dan politik bangsa ini harus melawannya dengan membangkitkan intelektualitas masyarakat melalui pendidikan, dan pencerahan.

Pendidikan merupakan syarat mutlak kebangkitan nasional, jika kita melihat sejarah tercetusnya kebangkitan nasional melalui gerakan Boedi Utomo. Waktu itu telah terjadi pencerahan melalui pendidikan, syarat keberhasilannya adalah pemerataan. Bagaimana pendidikan dapat mencerahkan masyarakat Indonesia, bentuk pendidkan masa dulu adalah pendidikan kerakyatan. Ada banyak bentuk pendidikan yang telah memunculkan tokoh hingga melahirkan kebangkitan nasional dan pencapaian kemerdekaan.

Saat ini pendidikan tidak merata, pendidkan tersentral dibeberapa daerah saja. Diluar sana pendidikan masih belum dimanfaatkan secara maksimal, diplosok-plosok pendidikan masih mengalami kekurangan guru. ruang belajar yang tidak nyaman, karena mengalami kerusakan, atap yang bocor saaat hujan, lantai yang rusak, tembok yang roboh dan fasilitas pendidikan yang kurang memadai. Yang sangat vital adalah tenaga pengajar yang kurang professional dalam mencetak kader sebagai agen of change.

Hal yang menjadi kendala adanya metode belajar yang masih kurang efektif dan kurang maksimal. Hal ini dikarenakan metode belajar yang sempit, artinya siswa hanya dapat memanfaatkan belajar dikelas yang sangat terbatas dari bimbingan guru, padahal pendidikan tempo dulu adalah pendidikan kerakyatan. Mereka berdiskusi dan belajar dimana saja, juga adanya peran media yang mudah didapat. Walau alat media masih minimal namun dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Peran media berupa tulisan dan radio tempo perjuangan melawan penjajahan benar-benar menjadi basis pendidikan masa.

Saat ini media semakin banyak dan cangih, tapi tidak dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan masa. Justru yang terjadi adalah basis pembodohan masa yang mengerikan. Itulah konsekuensi modernisasi yang pernah disebut-sebut Anthony Gidden, dimana modernisasi menjadi pemangsa yang akan melahap apa saja disekelilingnya. Media televise di Indonesia saat ini banyak menyuguhkan pendidikan berbentuk kontruksi sosial pesan-pesan budaya pop. Acara yang sering kita lihat di TV banyak memuat bentuk penjajahan intelektual, siap menghipnotis dua ratus juta penduduk Indonesia yang menontonnya.

Dengan seratus tahun kebangkitan nasional, diharapkan tidak adalagi perayaan tanpa kemenangan. Momen ini hanya awal menyadari bahwa kita masih terjajah.


0 Responses to “100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL, SUATU PERAYAAN TANPA KEMENANGAN”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Salam Kritis

Mau berbagi pengalaman, membahas teori-teori sosial, atau sekedar berkenalan untuk bersahabat. Ditunggu....

terisi21@yahoo.com

Semoga bisa membantu.

SOSIOLOGI

Klik tertinggi

  • Tak ada

Blog Stats

  • 206,790 hits

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 11 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: