23
Des
07

MENGKRITIK DOMINASI BARAT DI DUNIA KETIGA

 

MENGKRITIK DOMINASI BARAT DI DUNIA KETIGA

Oleh: Saripuddin*

 

Mengkritik dominasi teori barat sebagai anggapan wacana yang ideal didalam perkembangan dunia ketiga dirasa sangat perlu dan fardlu dilakukan, untuk membangun kesetabilan dunia pembangunan yang relepan dengan dunia empirik kita sendiri, tanpa menyamakan masalah yang ada di dunia pertama sebagai sebuah kiblat pengetahuan yang selalu kita sembah dan kita puja-puja. Selama ini kita hampir saja menjadi santri buta atas ajaran-ajaran yang digembor-gemborkan kalangan yang mengatas namakan modernisasi untuk pembangunan. Jika tidak secara hati-hati mencernanya kita akan semakin hancur didominasi pengaruh dunia pertama.

Apa yang selama ini dibangun oleh sebuah imej yang terbentuk dalam benak kita bahkan sudah menjadi persepsi yang membudaya bahwa barat dianggap sebuah kiblat atas kemajuan peradaban manusia yang sangat dominan, ditandai dengan adanya industri yang pertama kali terjadi di Inggris. Bagaimana agar pandangan masyarakat dunia ketiga mencontoh Negara-negara barat yang maju ? itulah yang selama ini tercermin dalam visi modernisasi yang sangat menguntungkan bagi dunia pertama dikawasan barat, akibatnya ini menjadi sumber menguatnya ketergantungan dunia ketiga terhadap Negara-negara maju.

Ketergantungan banyak meradang disegala bidang, meliputi banyak hal sehingga membuat pengaruh dunia barat semakin terasa di Indonesia. Lebih detailnya banyak bidang seperti keilmuan, politik, perekonomian, budaya, serta sendi-sendi kehidupan yang lain yang terjangkiti oleh dominasi barat. Bagaimana bisa ? justru selama ini kaum intelektual di Indonesia sepertinya mendukung ini terjadi, tanpa memilah-milah mana yang tidak berbenturan dengan budaya kita sehingga tidak mungkin diserap. Mengapa kemajuan yang ada dibarat sangat sulit diterapkan dinegara kita umumnya dinegara-negara berkembang, perlukah kita membuat gambaran minyak dan air yang tidak akan menyatu seperti halnya budaya barat yang coba dituangkan kedalam kebudayaan timur. Bahayanya hal ini justru akan merusak kesetabilan yang ada di dunia yang sedang terbangun dengan menggunakan jati diri budaya sendiri.

Kehancuran yang terjadi didunia ketiga sering kali ditimbulkan oleh campur tangan asing yang merusak kesetabilan sistem yang sudah ada, hal ini sudah banyak dibuktikan dalam sejarah Negara-negara yang runtuh. Isu yang muncul pertama kali biasanya terkait dengan isu politik, Negara barat yang sudah maju seakan mengadu domba Negara berkembang yang menggunakan sistem patriarki dengan meyodorkan sistem demokratis. Lambat laun politik semakin memanas menjadi berbagai macam peristiwa konflik yang merugikan bagi kesetabilan dunia berkembang.

Isu pemberantasan teroris belum lama ini menjadi wacana yang ditanamkan Negara Adidaya kepada Negara-negara lain diseluruh dunia. Suatu yang mengerikan, bagaimana kata teroris dijadikan sebuah senjata paling ampuh yang akan menghancurkan lawan dari apa yang paling dimusuhi oleh dunia barat ( Amerika dan sekutunya ). Keberadaan isu teroris yang sangat ditakutkan negara Islam menjadi imej baru untuk saling memusuhi mana yang sebenarnya teroris dan mana yang bukan teroris, atau bisa saja menjadi pertarungan teroris kakap dan teroris kelas teri sebagai sebuah ungkapan dominasi teroris dunia pertama terhadap musuhnya di dunia ketiga yang merupakan orang-orang tak berdaya, seolah-olah mereka memerangi teroris tingkat teri tanpa merasa dirinya sendiri sebagai teroris, membantai ribuan nyawa yang menjadi incarannya dan mengklaim dirinya sebagai pahlawan. Sangat mengerikan lagi ketika hal itu diikuti oleh Negara lain yang terinfeksi oleh pengaruhnya, berbagai Negara dari belahan dunia bersama-sama memerangi teroris yang merupakan warga negaranya sendiri yang amat ketakutan dan tidak memperoleh perlindungan manapun dibawah kolong langit semesta ini. Akibatnya satu persatu Negara yang memerangi teroris dilanda konflik baru berupa bermacam peristiwa yang sangat mengerikan seperti halnya perang saudara, layaknya ayah yang memburu anaknya untuk di hancurkan demi kepentingan orang luar. Isu teroris ini justru membuat banyak kalangan menjadi marah dan merasa tidak ada keadilan selain berusaha melakukan perlawanan. Akan tiba saatnya Negara-negara yang sedang berkembang menjadi tidak stabil dan hilangnya harmoni disebuah Negara karna diancam dengan bayang-bayang pemberontak, perang, bom bunuh diri, dan saling curiga.

Dalam hal perekonomian yang mengarah kepada modernisasi menjadi sangat fardlu untuk dikritik juga. Adanya industrialisasi besar-besaran di dunia agraris seperti Indonesia telah menimbulkan dampak kerusakan lingkungan yang teramat besar. Sampai-sampai kita dijadikan ladang eksploitasi bagi kebutuhan Negara-negara maju yang menjadikannya semakin kaya dan kita hanya diberikan ampas peninggalannya berupa bencana alam. Yang dipertanyakan adalah anggapan kita mengenai persepsi bahwa industrialisasi adalah konsep ideal dinegara kita yang mencontoh Negara dunia pertama yang telah maju. Sedikit demi sedikit penerapan budaya industri dalam pola perekonomian kita membuat ketergantungan terhadap Negara dominasi dunia pertama bertambah. Anehnya selalu saja barat yang menjadi sorotan orang-orang timur untuk dijadikan contoh dalam segala bidang. Namun berlahan akan kita sadari bahwa konsep industrialisasipun akan menghancurkan bagi dunia kita, terbukti kita semakin terpojokan oleh ketergantungan terhadap dunia pertama yang menjadikan kita mudah di eksploitasi serta menjadi semakin tidak stabil.

Budaya negri kita sendiri saat ini tidak luput dari virus westernisasi yang merusak akal budi ketimuran. Hangus sudah budaya kita, jati diri bangsa dan larutnya norma-norma, tergerus oleh pengaruh budaya barat. Merasa tanpa malu-malu masyarakat kita meniru budaya barat yang sangat bertentangan dengan jati diri kita yang sebenarnya, alasan yang diungkapkan mereka hanyalah demi kebebasan, demokratis, liberalis, dan ungkapan-ungkapan yang memuakan ditelinga ibu pertiwi yang sudah tak berbusana lagi.

Lihat saja generasi kita, generasi bangsa yang seharusnya dapat membanggakan mempunyai jati diri dan tanggung jawab mengharumkan Indonesia namun mereka justru hanya dapat meniru, mencontek gaya dan mode yang berbau barat. Tidaklah salah jika hal yang ditiru merupakan suatu yang positf, hanya saja pengaruh barat yang dominan selama ini menjadi bencana moralitas bagi mental bangsa. Semakin ketara, kita lihat kehidupan didunia nyata bahwa pengaruh modernisasi bagi Negara ini hanyalah menuju manusia yang konsumtif. Masyarakat yang senang mewah-mewah, serakah, dan banyaknya persaingan tidak sehat dalam segala bidang. Motivasi individu yang sangat tinggi untuk maju dan menikmati kemewahan tanpa memperhatikan lingkunagnnya yang semakin suram. Banyak fenomena yang dapat digambarkan, seperti masalah korupsi yang semakin memburuk dinegara kita umumnya dinegara dunia ketiga adalah akibat dari motivasi atas budaya konsumtif yang berakibat serakah, menghalalkan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan, sehingga banyak terjadi persaningan tidak sehat. Keadaan seperti ini menjadikan Negara berkembang rawan konflik sehingga merusak kestabilan dan menghambat pembangunan. Masalah budaya konsumtif belum lama ini tercium dikalangan legislative yang ingin membagi-bagikan leptop tanpa memperdulikan keadaan bangsa yang sedang sekarat, ini salah satu cerminan bangsa yang selalu ingin menikmati kemewahan dari hasil modernisasi tanpa ada upaya produktif. Dari potret dunia berkembang memang hal ini terjadi dimana-mana. Mereka berlomba-lomba menggunakan produk modern tanpa mengimbangi jiwa mereka dengan semangat jiwa modern yang produktif.

Gaya hidup budaya timur kini sudah mengering, hampir disemua pelosok Nusantara ketahanan kebiasaan, adat, dan budaya lokal sudah ternoda dari adanya modernisasi yang tersebar lewat media. Wanita- wanita masa kini berlomba-lomba tampil ideal dengan gaya-gaya ala wanita Eropa atau wanita ala Amerika, yang kebanyakan sudah kebal dengan rasa malu yang selama ini dianggap sebagai budaya timur, mereka lebih memperdulikan trend dan mode masa kini daripada menurutkan norma. Seakan kita selalu bertannya-tanya apa yang membedakan kehidupan ditimur dan dibarat saat ini ?

Derasnya pengaruh barat terhadap dunia timur sudah sulit dihentikan, campur tangan dunia pertama sering masuk mengobok-obok sendi kehidupan bangsa dunia ketiga, sudah saatnya kita bisa membendung setidaknya meminimalisir pengaruh dunia pertama, kalau tidak selamanya bangsa kita tercinta akan terus dieksploitsi seperti Negara jajahan yang tidak berdaulat. Kemandirian adalah satu-satunya jalan terbaik meningkatkan pembangunan khususnya di kawasan dunia ketiga yang sedang berkembang seperti Indonesia. Sekali-kali jangan kita samakan dunia kita ini dengan dunia barat, karna bagaimanapun kita sangat berbeda dalam banyak hal mengenai kebudayaan, segi ekonomi, geografis, politik, dan kemajemukan sebagai karakteristik kehidupan yang ada di Nusantara.

Jalan terbaik bagi pembangunan kita adalah bagaimana mebangun stabilitas, pembangunan yang sesuai dengan keadaan realita negeri kita sendiri. Pola stabilitasi sangat mungkin dengan meperhatikan keberadaan lingkungan sekitar, membenahi fungsi yang sesuai dengan kebutuhan kita. Stabilitas ini meliputi pembangunan berupa sumber daya alam dan keberadaan sumber daya manusia agar terbentuk, dikelola dengan ciri khas bangsa sendiri tanpa ada campur tangan asing.

Mudahnya dunia ketiga seperti kita untuk diekplotasi oleh Negara-negara maju merupakan awal kehancuran, setidaknya kita dijajah secara ekonomi, budaya, dan politik. Semakin terlihat dari adanya industrilisasi diwilayah kedaulatan kita sendiri yang dikuasai pihak asing akan menuai kesengsaraan bagi rakyat Indonesia. Banyak kasus industrialisasi yang justru tidak dapat membawa kesejahteraan bagi masyarakat lokal seperti ditanah Papua yang bertabur emas, keberadaan hutan di Kalimantan dan Sumatra yang begitu kaya, batu bara, dan minyak bumi yang selalu mengguntungkan pihak luar dan menuai bencana bagi masyarakat lokal.

Sekali lagi kemajuan pembangunan bukan berarti dapat mencapai kemewahan seperti yang dimiliki oleh Negara-negara dunia peratama, tapi bagaimana mambangun stabilitas agar semua sistem yang ada di Negara kita dapat berfungsi secara maksimal, pembenahan agar semua harapan-harapan dari masyarakat dapat dipenuhi yang merupakan ciri menuju masyarakat madani.

 

 

 

 

  • Identitas penulis:

 

Nama: Saripuddin

Mahasiswa Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Tempat Tanggal Lahir : Indramayu 09 juli 1986

Alamat: Jl. Kenari Gg. Tanjung UH II/308 Miliran

Yogyakarta 55165

No Tlp: 085228899105 (HP)

 

 


0 Responses to “MENGKRITIK DOMINASI BARAT DI DUNIA KETIGA”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Salam Kritis

Mau berbagi pengalaman, membahas teori-teori sosial, atau sekedar berkenalan untuk bersahabat. Ditunggu....

terisi21@yahoo.com

Semoga bisa membantu.

SOSIOLOGI

Klik tertinggi

  • Tak ada

Blog Stats

  • 206,790 hits

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 11 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: