21
Des
07

Gender Dalam Pendidikan

14.jpg 

Gender Dalam Dunia Pendidikan

 

Mengenai permasalahan gender tidak lepas dari sebuah teori yang mendasar yang dapat dibagi kepada dua kelompok teori yakni teori sosial makro, dan mikro.

Berbicara mengenai wacana gender dalam pendidikan tidak lepas dari faktor lainnya seperti organisasi keluarga dan pekerjaan, surplus ekonomi, kecanggihan tekhnologi, kepadatan penduduk dan lainnya. Karna kesemuanya adalah variabel yang saling mempengaruhi banyak hal tentang gender begitupun didalam fenomena pendidikan.

Persoalan mendasar mengenai gender bermula dari pertanyaan “ dan bagaimana dengan pearempuan ? “ hal tersebut akan dibahas dalam tiga teori yang ada dalam teori sosial makro yakni fungsionalime, teori konflik analitik dan teori sistem dunia.

Harus diakui bahwasanya teori fungsional memang gagal melihat kerugian yang dialami wanita dalam masyarakat. Alasannya dalam teori fungsional terutama dalam teori Parson cenderung meminggirkan masalah ketimpangan sosial, dominasi, dan penindasan tentu saja karna fungsionalisme selalu menekankan ketertiban sosial.1

Adanya pendidikan tidak saja melihat kepda pendidikan formal, namun harus dimulai dengan bagaimana pendidaikan itu dimulai. Tentu saja kita bisa melihat feanomena proses pendidikan dalam keluarga dimana wanita sangat berperan sebagai produsen utama fungsi-fungsi pokok keluarga.

Dalam keluarga perempuan secara tidak langsung dididik menjadi seorang yang mengutamakan perasaan. Hal itu lantas menjadi pola turun temurun sebagai hal yang dipandang alamiah maka timbulah fenomena dalam pendidikan umumnya perempuan memilih studinya yang mengutamakan perasaan dan kecerdsasan emosional. Contoh banyak perempuan lebih memilih studi tentang keperawatan, pramugari, entertainer, psikolog, guru, dan lain lain.

Dibandingkan dengan fenomena yang ada dimasa lalu gender sudah banyak memperoleh kesempatan yang sama dengan laki-laki. Dulu banyak fenomena dimana orang tua lebih mengutamakan pendidikan untuk anak laki-lakinya dengan berbagai alasan, tapi tidak dipungkiri mungkin saat ini masih bisa terjadi.

bahwasannya pada teori konflik analitik lebih menggunakan pendekatan cultural, dalam teori ini melihat adanya ketimpangan gender yang selalu disebut sebagai stratifikasi jenis kelamin.

Agar lebih jelas kelompok-kelompok feminis dapat kita golongkan menjadi tiga golongan yakni feminis liberal, radikal, dan sosialis.

Feminis Liberal adalah feminis yang mengusulkan bahwasannya perempuan mempunyai hak yang sama dengan laki-laki, ciri dari gerakan ini tidak mengusulkan perubahan struktur secara fundamental, melainkan memasukan wanita kedalam struktur yang ada berdasarka prinsip kesetaraan dengan laki-laki.

Jelas mungkin bila selama ini pendidikan lebih mendahulukan kaum laki-laki maka feminis ini leabih memperjuangkan tentang adanya kesetaraan mengenai hak-hak yang seharusnya diperoleh para perempuan yang sama dengan kaum adam. Contoh dalam pendidikan adanya kesamaan memperoleh hak yang sama dalam menimba ilmu apapun yang dipandang sebagai pendidikan untuk para pria caontoh sekolah SMK/STM, AKABRI,AKPOL,Politik, dan lain sebagainya.

Inti ajaran feminis liberal2

  • Memfokuskan kepada perlakuan yang sama terhadap wanita diluar dari pada didalam keluarga.

  • Memperluas kesempetan pendidikan merupakan langkah efektif untuk melakukan perubahan sosial.

  • Pekerjaan rumah tangga seperti merawat anak, melayani bapak, menyusui,memandikan, memasak,meancuci dipandang sebuah pekerjaan tidak terampil yang merupakan pengandalan tubuh, bukan pikiran rasional.

  • Perjuangan harus meanyentuh kesetaraan politik antra wanita dan laki-laki,melalui perwakilan wanita diruang-ruang publik

  • Feminis saat ini cenderung lebih sejalandengan liberalisme kesejahteraan atau egalitarian yang mendukung kesejahteraan Negara (welfare state)

 

 

 

Feminis Radikal

Feminis radaikal lebih menekankan kebalikan dari feminis liberal, jika sebelumnya kaum feminis mengusulkan kesetaraan kaum hawa dengan kaum adam maka radidkal tidak demikian, hal ini dapat dilihat dari usulan bahwasangnya hak antara laki-laki dan hak perempuan harus dibedakan. Misallnya wanita dan laki-laki mengkonseptualkan kekuasaan secara berbeda, bila laki-laki lebih pada mendominasi dan mengontrol orang lain maka perempuan lebih tertuju dalam berbagi dan merawat keakuasaannya..

Feminis ini menyatakan bahwasanya adanya keteransingan yang dialami kaum perempuan karena diciptakan oleh unsur politik maka transformasi personal lebih kepada aksi-aksi radikal.

Inti ajaran feminis radikal

  • memprotres ekploitasi terhadap wanita (termasuk peran ibu, pasanagan sex, dan istri) feminis radikal menganggap perkawinan sebagai bentik formalitas yang mendeskriminasikan perempuan.

  • masyarakat harus diubah secara menyeluruh,termasuk lembaga-lembaga sosial fundamental harus dirubah secara fundamenbtal pula

the personal political.

Feminis Sosialis

Aliran ini bertumpu pada teori Marx dan Engel yang beraliran sintesa histories-matrealis. Menurut Engel laki-laki dan perempuan berperan dalam pemeliharaan keluarga inti, namun kareaana tugas tradisional wanita mencakup pemeliharaan rumah tangga dan penyiapan makanan seadanagakan tugas laki-laki mencari makan,memiliki dan memerintah budak serta memiliki alat-alat prodauksi yang mendukung tugas tersebaut. Dalam hal ini laki-laki meampunyai akumulasi kekayaan yang lebih tinggi dari perempuan. Hal ini yang amenyebabkan posisi laki-laki dianggap lebih penting dan sangat mudah daalam mengekploitasi perempuan.

Inti ajaran feminis sosialis.3

  • Wanita tidak dimasukan kedalam analisis kelas. Dengan alasan karna wanita tidak mempunayai hubunagan khusus dengan alat-alat produksi.

  • Mengajukan solusi bahwasannya wanita harus dibayar untuk upah kerjanya dalam rumah tangga

  • Kapitalisme memperkuat sexism, karena memisahkan antara pekerjaan rumah tangga dan bergaji.dan maendesak agar wanita melakukan pekerjaan diwilayah domestic.

Dapat kita jelaskan bgaimana ketiga aliran feminis ini menanggapi permasalahan gender dari berbagai argumennya, hal ini juga dapat kita katkan daengan isu-isu bagaimana isu gender dalam pendidikan?

Jika kita memahami ketiga teori diatas dan ketiga teori yang ada pada teaori sosial makro sebelumnya maka gender bergerak bagaimana seharusnya perempuan. Jelas seperti dinyatakan dalam fungsionalis yang sama dengan pernyataan golongan liberal bahwa perempuan haruslah diposisikan keruang-ruang public dan memperoleah hak yang sama dengan laki-laki. Di I ndoneasia mungkin kita teringat akan perjuangan Kartini sang pahlawan yang memeperjuangkan kesamaan perempuyan dalam mengaksek dunia pendidikan dan dapat berkiprah didunia public.

Yang kedua golongan radikal jelas kebalikan dari liberal kaitannya dengan pendidikan bisa ditebak keinginannya untuk merubah struktur masyarakat yang selama ini dianggap merugikan perempuan, yakni adanya isu ekploitasi kaum perempuan oleh para laki-laki. Mungkin jika kita melihat dalam pendidikan, bisa jadi protes atas gaji guru honorer perempuan yang lebih rendah dari guru laki-laki, bisa jadi protes atas kedudukan laki-laki yang mendominasi dunia pendidikan, misal.

About these ads

17 Responses to “Gender Dalam Pendidikan”


  1. 29 Juli 2010 pukul 9:04 am

    mantabbbbbbbbbbbbb

  2. 2 dion
    26 Agustus 2010 pukul 4:35 am

    minta kajianx lebih dalam lagi donk

  3. 3 Sarip hasan
    2 Oktober 2010 pukul 12:19 pm

    pasti …

  4. 4 Sarip hasan
    2 Oktober 2010 pukul 12:20 pm

    heee

  5. 5 Anonymous
    18 November 2011 pukul 2:01 am

    masak? yakin?!!

  6. 6 selvhy
    5 Mei 2012 pukul 10:18 am

    wah bs lbh d kembangkan k?

  7. 7 gilang
    22 Mei 2012 pukul 12:13 pm

    oke, tanx infonya

  8. 8 Anonymous
    27 September 2012 pukul 1:34 am

    tugas adx gue ini,,, w copy ach :D

  9. 10 Anonymous
    27 September 2012 pukul 11:46 am

    wewww,,tgaz saia nee

  10. 9 Desember 2012 pukul 12:27 pm

    tugas pacar we nih… copas ya.. :)

  11. 12 DUTHA
    26 Agustus 2013 pukul 11:54 am

    ni dia tugas guen ,,,,
    thx

  12. 13 DUTHA
    26 Agustus 2013 pukul 11:55 am

    ni dia tugas gue,,,,
    thx

  13. 14 Mia Agistina
    22 September 2013 pukul 12:09 pm

    tugas q sosiologi.
    alhamdulillah ada di sini..

  14. 15 roro
    30 September 2013 pukul 9:22 am

    alhamdulillah,,,

  15. 16 trimakasih buat bu'guru yg sdah memberikan tugasx
    9 Oktober 2013 pukul 10:41 am

    aduh banyak banar catatan x ,handak patah rasa tangan q ….

  16. 17 Hamzah Has
    10 Agustus 2014 pukul 2:33 am

    tolong sampai habis kajiannya, tambah daftar pustaka untuk jadi acuan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Salam Kritis

Mau berbagi pengalaman, membahas teori-teori sosial, atau sekedar berkenalan untuk bersahabat. Ditunggu....

terisi21@yahoo.com

Semoga bisa membantu.

SOSIOLOGI

Blog Stats

  • 101,803 hits

Komentar Terakhir

Hamzah Has on Gender Dalam Pendidikan
trimakasih buat bu'g… on Gender Dalam Pendidikan
roro on Gender Dalam Pendidikan
Mia Agistina on Gender Dalam Pendidikan
DUTHA on Gender Dalam Pendidikan
DUTHA on Gender Dalam Pendidikan

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 9 pengikut lainnya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: