“kaos merah indonesia”
ENTAH BERANTAH
ENTAH BERANTAH
Seperti diantara malam, aku berpaling dari dinginnya malam. Dalam semak belukar di hutan tropis. Aku hanya menanti datangnya burung pipit bawakan kunci syurga firdaus untukku, agar aku mati dalam sejuknya firdaus. Aku akan tetap menelusuri lorong belukar dihutan ini. Aku ogrok-ogrok sarang lebah agar menggigitku, agar ku tahu sakitnya disakiti.
Petang awan berteman petir, dan binatang-binatang ketakutan dalam semak hijau. Aku tetap melangkah agar semua binatang melata mengikuti dibelakangku, berang-berang malang yang tersangkut diakar rawa dan seekor ular besar mengintai berang dalam air rawa itu, ular besar itupun sepertinya ketakutan merasakan cacing masuk kedalam liang hidungya….
Anak monyet itu mirip seperti dirimu yang sedang kebingungan dan ia mengintaimu dari bawah, Mungkin ia ingin meledek (Pintar nian dia bercakap meledek kalau kita mirip kuskus….) mungkin kuskus dipikirannya adalah mahluk terjelek diantara belantara ini…..tahu kalau kau sedang bingung baca tulisan ini, yang arahnya entah kemana. Benar kau lebih jelek dari kera yang sedang bingung, (sssst…!!!) jangan kerutkan dahimu karena menandakan kau merasa iyaaa….
Malam mulai gelap, hutan ini melirik seram diantara lubang kayu yang berpenghuni. berlahan bulan sabit muncul diantra pepohonan tinggi…kepulan asap dari air, memerah ditengah rawa yang gelap karena ditelan malam. Suara jeritan mahluk mengerikan membayangi gelisahku ….serat tenggorokan karena tersangkut lidah yang tak berludah. Ketika mendung mulai menjatuhkan hujannya….halilintar mengejutkan aku dalam ketakutan. Tiba-tiba aku gelisah dan memeluk pohon besar …..seonggok kayu tunggul menyerupai manusia duduk melamun, sentak membuatku girang, ternyata ia hanya bayangan. Hujan mulai deras petir membakar beberapa rantig pepohonan dan padam oleh hujan badai yang menderu biru….. liang-liang hitam dalam pohon menegluarkan bunyi menggeram. beberapa jari jari binatang berbulu mulai tampak diambang lubang yang besar….mahluk apa, ia hanya tampak bagai bayangan yang tak berwujud.
Aku hanya menjadi dingin setelah lama hujan mengguyur melunturkan warna hijau dedaunan…malam begitu hitam lekat, binatang malam tak lagi bersuara yang ada hanya sunyi. Mungkin semuanya tidur karena besok pagi ada tugas, bulan semakin tak menampakan sinarnya, hanya awan yang semakin tebal dalam tengah malam yang semakin larut ditelan malam yang kian kalut. Entah hanya ada dalam dongeng bintang dapat berkata, namun ku mendengar ia berkata dalam hutan ini “hai tidurlah” bisik seekor semut dibalik daun kering ditanah basah.
KABINET OPLOSAN
kabinet yang dibuat dengan komposisi aneka ragam warna partai mengkhawatirkan saya akan hilannya budaya kritis yang sangat dibutuhkan guna mengimbangi pemerintahan saat ini. siapa berani jadi oposisi? kalau semuanya kebagian kue pemerintahan. anjing yang sudah dikasih tulang dia tidak akan menyalak kepada tuannya artinya mana mungkin kritis partai yang sudah dapat jatah dipemerintahan.
bukanya saya menyalahkan kualisi dan balas jasa SBY, tapi yang saya sayangkan disini adalah minimnya minat untuk beroposisi dengan pemerintah. kalau alasannya tidak menguntungkan secara finansial, tidak menguntungkan karena alasan tidak mendapat kedudukan di pemerintahan tentu sangat saya prihatin.
padahal jadi oposisi berarti mewakili sebagian masyarakat Indonesia yang tidak puas terhadap kinerja pemerintah, jumlahnya tidak sedikit puluhan juta orang merasakan kekecewaan selama pemerintahan SBY memimpin. apalagi jutaan, segelintir orang yang merasa tidak puaspun seharusnya bisa disuarakan lewat oposisi.
saya rasa oposisi sangat menguntungkan nantinya, disaat pemerintah melakukan kesalahan bukan tidak mungkin partai oposisilah yang nantinya akan mendapatkan popularitas. contohnya di AS saat presiden Bush membuat kebijakan perang Irak, akhirnya memperlemah suara partai Republik kemudian pemilu dimenangkan oleh partai oposisi.
BERSAMBUNG
Gempa yang menelan korban jiwa di Sumatra Barat dan Jambi dapat membawa perubahan sosial yang berdampak negatif maupun positif. Bencana bisa merusak sistem sosial yang sudah bernafas di padang, dari beberapa aspek sosial, ekonomi, politik, agama dan budaya. Bencana selalu mendatangkan dampak negatif semua orang tau, namun disisi lain dampak positifnya banyak orang belum tau.
Dalam tulisan ini akan dijelaskan dampak positif yang besar yang bisa dijelaskan dalam teori pertukaran.
Bencana gempa yang menelan banyak korban jiwa dapat mengendalikan jumlah populasi manusia yang kian padat dimuka bumi. Bayangkan saja, dampak kepadatan manusia bisa memicu kerusakan bumi yang mengancam kelangsungan hidup umat manusia dimuka bumi. salah satu akibat kepadatan penduduk diantaranya meluasnya penggarapan hutan menjadi lahan tempat tinggal, kebun, ladang, tempat industri, yang akhirnya mempersempit kawasan hutan dimuka bumi. Pertumbuhan penduduk juga membawa dampak buruk diantaranya memperparah polusi hingga menaikan suhu bumi. akibatnya terjadi pencairan gunung es dikutub utara dan selatan yang dapat meneggelamkan pulau-pulau. intinya semakin banyak penghuni bumi dengan pertumbuhannya yang tidak terkendali maka bumi menjadi tidak setabil.
Alam mau tidak mau mengurangi jumlah tumpangannya dengan berbagai bencana yang banyak menelan korban jiwa, ini dapat mengendalikan jumlah manusia yang tidak terkendali mencapai triliunan. Ya, mungkin saya berargumen kurang manusiawi terjadinya bencana alam untuk mengendalikan populasi manusia. Kalau angka kematian lebih besar, tentu tidak beresiko terhadap perluasan penebangan hutan, menambah polusi, dan kerusakan alam yang diakibatkan manusia.
Bencana alam yang trejadi akhir-akhir ini dari mulai sunami di Aceh, Yogyakarta, Jawa Barat, dan sekarang di Padang (SUMBAR) berpotensi mengendalikan luas hutan yang selalu digarap untuk pemukiman seiring laju penduduk, juga mengendalikan kepaadatan manusia di muka bumi.
Fitri berarti fitrah, kembali kepada kesucian. Menganggap diri seperti tanpa dosa karena merasa telah disucikan atas dosa-dosa. Tak terkecuali bagi para pendosa kelas kakap yang telah mewariskan kesengsaraan bagi anak-anak bangsa. Sungguh Tuhan yang maha ampun telah menenangkan setiap pendosa itu setelah mereka kaya dan negeri ini jadi bangkrut. Setiap kali kita saksiakan para koruptor dan para penjahat kelas kakap dinegeri ini tertangkap basah namun hanaya dihukum beberapa tahun bahkan beberapa bulan saja setelah mendapat remisi dari momen-momen lebaran dan hari besar lainnya. sungguh negeri ini berpihak kepada siapa? Sedangkan rakyat jelata dipenjarakan lebih lama hanya karena maling ayam, nyolong sandal, atau hanya karena alasan mencemarkan nama baik.
Apakah bangsa ini sudah fitri dihari dihari yang fitri ini? diantara kita jangan ada ketakutan untuk berkata kejujuran. Apa yang bangsa ini menangkan dihari besar kemenangan umat Islam yang merupakan mayoritas kemenangan penduduk Indonesia. Jangan berkata puas, hanya karena kita satu partai. Itu adalah kebohongan karena ketakutan kita berada dalam minoritas ditengah mayoritas pendukung presiden.
Kenapa kita akut berbicara pahit jika ini kenyataannya, masih banyak ketimpangan lalu lalang dihadapan namun takut berteriak. Apa karena kehidupan pribadi sudah cukup baik, hingga merasa aman bagi diri kita saja. Tak hiraukan tetangga kita, rakyat kita, bangsa kita, yang butuh suara lebih lantang dari reformasi 98. kita hanya butuh berteriak satu kata “KEADILAN !”.
Ingat kemarin salah satu pemilik BANK CENTURY hanya mendapatkan hukuman 4 tahun penjara, sedangkan uang rayat yang yang digondol dapat menghidupi banyak rakyat lebih dari seumur hidupnya dengan uang itu. Masih ada juga kasus korupsi lain yang menyerap duit rakyat milyaran bahkan triliun namun hanya diganjar tahunan saja sedang setelah pulang dari LP mereka masih bisa menikmati sisa uang korupnya.
Kematian Munir, jadi tanda tanya besar. Entah sampai kapan keadilan benar-benar tegak, kenapa di bunuh? siapa? Hanya karena beliau membuka mulutnya satu senti lebih berani dari kita. Ada kebohongan di negeri ini yang disembunyikan oleh para elite.
Kemenangan ini seharusnya lebih indah, jika bangsa ini lebih perduli ketimpangan yang dialami rakyat. Rakyat butuh kejujuran, jangan ada kebohongan yang membohongi rakyat di kolong jembatan, rakyat di lumbung sampah, rakyat yang ada di sawah, juga rakyat yang terkena bencana dimana-mana.
Menjadi kemenangan yang belum pantas untuk sebuah kemenangan yang sejati.
MUI mau mengeluarkan fatwa mengemis, MUI Sumenep Madura telah terlebih dulu menetapkan fatwa haram. Ini merupakan pukulan yang keras sampai mengguncang ulu hati si pengemis, miris yang membuat rakyat kelas paling bawah ini menangis. MUI pusat sedang mempertimbangkan fatwa haram mengemis, detik demi detik simiskin menunggu was-was apa jadinya nanti.
Berapa banyak orang yang benar-benar miskin terdzolimi oleh fatwa itu, kalau memang MUI atau pemerintah tidak bisa mengurusi mereka semua jangan dulu buat fatwa kalau memang sudah mampu menjamin kualitas hidup mereka lebih baik tidak masalah. Lah, kalau melihat realitas sekarang memang keadaanya mencari kerja susah, toh pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan kerja, justru sebaliknya PHK dimana-mana, penggusuran dan mala bencana dimana-mana. sebaiknya MUI tidak boleh dijadikan barometer dalam peraturan pemerintah, toh Indonesia bukan negara Islam.
Intinya bukan fatwa yang diutamakan tapi aksi, akasi-aksi yang kongkrit dalam mengahapus kemiskinan. Silahkan MUI berjuang memotivasi umat, menyediakan lapangan kerja, kalau tidak bisa jangan bikin rakyat makin sengsara. Kebenaran itu relatif, Allah lah yang lebih tahu mana yang diridhoiNya.
Zakat melalui lembaga resmi mulai dikampanyekan, orang tidak lagi bisa bersedekah disembarang tempat bisa-bisa ia kena tangkap. Sungguh merupakan masalah yang akan menimbulkan masalah. Mengingat masyarakat Indonesia belum terbiasa, tidak mudah membiasakan hal baru bersedekah hanya ditempat-tempat tertentu. Apalagi kepercayaan masyarakat terhadap lembaga yang mulai berkurang karena maraknya korupsi termasuk lembaga agama yang akhir-akhir ini menduduki urutan teratas terkait masalah korupsi.
Orang bersedekah karena akan meningkatkan citranya dimasyarakat, karenanya lebih suka bersedekah secara langsung kepada pengemis-pengemis jalanan agar terlihat. Tepat sasaran atau tidaknya merupakan masalah tekhnis karena orang menilainya dari niat tanpa memperdulikan sandiwara simiskin, apakah ia benar-benar miskin atau tidak. Harusnya mengemis itu dilarang bagi orang-orang kaya saja, bagi yang ketahuan berkehidupan mapan maka dia patut ditangkap setara dengan korupsi kelas teri. Terlebih pengemis uang rakyat yang duduk di Senayan, yang banyak memakan anggaran milyaran rupiah lebih pantas diharamkan.
Saripuddin
Mahasiswa Sosiologi Fakultas Sosial Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Peringatan kebangkitan nasional seringkali hanya dijadikan momen formalitas untuk memperingati sejarah kebangkitan dimasa lampau. Namun momen ini tidak benar-benar membuat masyarakat Indonesia bangkit dan melawan bentuk-bentuk penjajahan. Setidaknya kita masih dijajah dalam beberapa aspek oleh bangsa lain, bahkan oleh orang-orang kita sendiri. Bentuk-bentuk penjajahan tidak kita sadari lebih parah dari keadaan penjajahan yang sebenarnya. Penjajahan meliputi penjajahan secara ekonomi yang membuat bangsa ini miskin dan dililit hutang. Kemiskinan itu bentuk dari kemiskinan intelektual hingga menjadikan bangsa ini miskin juga dalam bentuk material. Bangsa yang kaya akan sumber daya alam justru tidak mampu mengelola harta kekayaan yang kita punya.
Secara ekonomi semenjak dulu bangsa ini terus dijajah, coba kita renungkan berapa banyak kekayaan alam yang dikeruk dari keuntungan melimpah ruah ditangan para Negara kapitalis global.
Ditengah melimpahnya sumber daya alam mineral, Indonesia masih terjebak kekurangan bahan mineral, padahal lebih dari cukup persediaan seharusnya mampu mencukupi kebutuhan masyarakat. Bentuk imprealis yang menakutkan, lihat akibat yang ditimbulkan, bayak masyarakat antri membutuhkan minyak ditengah banyaknya kilang minyak yang tersebar diseluruh nusantara. Pemadaman listrik karena kekurangan stok batu bara padahal stok batu bara melimpah. Juga tambang emas di Papua yang diklola PT Prifot jelas merupakan bentuk penjajahan ekonomi yang merugikan. Tambang timah bahkan air dikuasai imprealis kapitalis global.
Kekayaan yang kita punya tidak cukup membuat masyarakat Indonesia bahagia dan berbangga hati, justru kekayaan alam telah mengundang banyak imprealis masuk ke Indonesia. Hal yang paling menyedihkan beberapa waktu lalu masih ada saja rakyat yang mati kelaparan, sungguh bangsa yang ironi. Fenomena-fenomena ironis yang lain, busung lapar, mati kelaparan, antrian minyak tanah, perdagangan manusia, dan banyak hal lain yang berlawanan dengan harapan.
Penjajahan cukup luas, merampas bayak aspek yang membuat Negara tidak berdaya, negara hanya dapat menyaksikan masyarakat sengsara terbawa arus imprealis budaya barat. Pejajahan budaya banyak kita temui dimana-mana menjadikan budaya kita tersingkir, apa yang dibangun oleh ketidaktahuan masyarakat sungguh mengerikan.
Gaya hidup kebarat-baratan yang mengatas namakan modernisasi adalah salah satu wujud kemiskinan intelektual bangsa, hingga terus dijajah secara budaya dan ekonomi.
Produk yang ditawarkan adalah produk kapitalis global dan itu telah berhasil menjajah jutaan penduduk bangsa ini. Dari segi mental, budaya, ekonomi, dan politik masyarakat dijajah melalui media. Menjamurnya perusahaan asing yang telah membuat bangkrut perusaan lokal adalah bukti konkrit bentuk penjajahan secara ekonomi. Mungkin orang Indonesia lebih suka makan di restoran siap saji seperti KFC atau Mcdanol dari pada makan di restoran lokal. Hal itu mampu mengahapus rasa nasionalisme masyarakat, secara tidak langsung kita memilih membela penjajah dari pada membela pengusaha lokal yang sedang berjuang menumbuhkan perekonomian nasional. Lalu dimana rasa nasionalisme kita?
Hibriditas yang mengidentifikasikan budaya dan identitas selalu merupakan pertemuan dan percampuran berbagai kebudayaan dan identitas yang berbeda hingga terjadi percampuran yang mengaburkan mana asli dan mana yang “aspal”. Produk-produk barat masih mendominasi, bukti kita masih dijajah secara sadar, kita sudah mengalami ketergantungan terhadap budaya pop. Apa-apa serba meniru budaya pop, MTV, NBA, Coca Cola, KFC, Nike, American Idol, dan masih banyak lagi yang lain.
Coba bayangkan betapa kesenjangan telah terjadi begitu curam, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin tersingkir, yang gaya makin gaya walau tidak punya kekayaan rela menjual diri demi mengikuti gaya budaya pop. Tua muda berpesta walau ditengah masyarakat yang penuh kemiskinan, pernikahan yang menghabiskan uang milyaran rupiah ditengah kehidupan rakyat miskin yang tidak mampu membeli sesuap nasi. Mereka masih terus berpesta pora mengikuti mode yang terus berkembang, entah apa yang dirayakan dari sekian banyak kemewahan, pesta berjuta masyarakat Indonesia. Budaya pop wujud dari imprealisme global telah menjadikan masyarakat berpola hidup heidonis. Berpesta tanpa ada suatu kemenangan, berpesta hanya demi kesenangan untuk lari dari kenyataan.
Kemenangan apa yang didapat dari perayaan, bahkan pada momen kebangkitan nasional banyak orang mengadakan pesta dan perayaan dalam berbagai macam bentuk perayaan. Kebangkitan sudah menjadi tradisi untuk memperingati secara ceremonial tanpa ada perjuangan konkrit untuk mempertahankannya dari penjajahan yang sebenarnya. Saat ini banyak orang terpecah belah mempertahankan kepentingannya masing-masing. Sekali lagi bahwa itu adalah imbas dari “budaya pop”, banyak orang memperjuangkan materi demi tujuan yang dimaksud. Tujuan tidak lain adalah produk budaya pop. Hal itu yang memicu perpecahan dimana orang-orang terpecah untuk mendapatkan kepentingannya masing-masing. Fenomena tersebut membawa orang untuk korupsi (yang kemarin gempar). Hal ini dapat melanda siapa saja, apalagi masyarakat awam. Ditengah menggiurkannya budaya pop yang menawarkan sejuta kenikmatan dunia, orang akan berani melakukan apa saja demi tercapainya sebuah maksud.
Apa yang kita bangkitkan dari peristiwa sejarah ini, apa arti kebangkitan nasional yang kita peringati selama seratus tahun berlalu. Bangkitnya bangsa ini selama seratus tahun yang silam sudah dilupakan oleh generasi masa kini. Bahkan rasa nasionalis seperti apa yang harus mereka perjuangkan mereka tidak tahu. Generasi muda masa kini telah bahagia dijajah, walaupun mereka tidak menyadari penjajahan apa yang sedang menjajah mereka. Sudah sekian lama bangsa Indonesia terjajah, rupanya telah menyisakan mental terjajah yang sangat bertentangan dengan cita-cita dan harapan kebangkitn nasional
Bagaimana melawan bentuk imprealisme yang digencarkan Negara kapitalis saat ini, salah satu cara adalah menggunakan produk budaya sendiri. Tidak terpancing oleh imej yang dibangun media masa yang sering kali menjajah pikiran dan mental. Secara mendasar bangsa ini telah terjebak pada budaya global yang menghilangkan jati diri bangsa Indonesia.
Jika dulu perlawanan Boedi Otomo dan masyarakat Indonesia mengusir penjajah dengan senjata maka kali ini dengan memperingati kembali kebangkitan nasional kita bangkit dan melawan bentuk imprealis yang bentuknya tidak nampak oleh mata, hal-hal seperti yang sudah disebutkan diatas seperti penjajahan budaya, ekonomi dan politik bangsa ini harus melawannya dengan membangkitkan intelektualitas masyarakat melalui pendidikan, dan pencerahan.
Pendidikan merupakan syarat mutlak kebangkitan nasional, jika kita melihat sejarah tercetusnya kebangkitan nasional melalui gerakan Boedi Utomo. Waktu itu telah terjadi pencerahan melalui pendidikan, syarat keberhasilannya adalah pemerataan. Bagaimana pendidikan dapat mencerahkan masyarakat Indonesia, bentuk pendidkan masa dulu adalah pendidikan kerakyatan. Ada banyak bentuk pendidikan yang telah memunculkan tokoh hingga melahirkan kebangkitan nasional dan pencapaian kemerdekaan.
Saat ini pendidikan tidak merata, pendidkan tersentral dibeberapa daerah saja. Diluar sana pendidikan masih belum dimanfaatkan secara maksimal, diplosok-plosok pendidikan masih mengalami kekurangan guru. ruang belajar yang tidak nyaman, karena mengalami kerusakan, atap yang bocor saaat hujan, lantai yang rusak, tembok yang roboh dan fasilitas pendidikan yang kurang memadai. Yang sangat vital adalah tenaga pengajar yang kurang professional dalam mencetak kader sebagai agen of change.
Hal yang menjadi kendala adanya metode belajar yang masih kurang efektif dan kurang maksimal. Hal ini dikarenakan metode belajar yang sempit, artinya siswa hanya dapat memanfaatkan belajar dikelas yang sangat terbatas dari bimbingan guru, padahal pendidikan tempo dulu adalah pendidikan kerakyatan. Mereka berdiskusi dan belajar dimana saja, juga adanya peran media yang mudah didapat. Walau alat media masih minimal namun dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Peran media berupa tulisan dan radio tempo perjuangan melawan penjajahan benar-benar menjadi basis pendidikan masa.
Saat ini media semakin banyak dan cangih, tapi tidak dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan masa. Justru yang terjadi adalah basis pembodohan masa yang mengerikan. Itulah konsekuensi modernisasi yang pernah disebut-sebut Anthony Gidden, dimana modernisasi menjadi pemangsa yang akan melahap apa saja disekelilingnya. Media televise di Indonesia saat ini banyak menyuguhkan pendidikan berbentuk kontruksi sosial pesan-pesan budaya pop. Acara yang sering kita lihat di TV banyak memuat bentuk penjajahan intelektual, siap menghipnotis dua ratus juta penduduk Indonesia yang menontonnya.
Dengan seratus tahun kebangkitan nasional, diharapkan tidak adalagi perayaan tanpa kemenangan. Momen ini hanya awal menyadari bahwa kita masih terjajah.
natal
Natal Merajut Kembali Solidaritas Antar Umat Beragama
Baru saja terukir senyum dibibir umat Muslim dengan datangnya hari raya Idul Adha. Tidak lama kemudian Natal tiba, seakan ingin bergandengan merayakan bersama hari besar mereka. Terlihat hiasan lampu yang melingkari pohon natal, kemeriahan diiringi kembang api dan rumah yang berhiaskan lampu warna-warni. Cahaya bulan mungkin tersenyum seandainya hari itu menjadi hari kedamaian untuk kita semua. Begitu banyak keindahan di bulan Desember, sayang jika berlalu tanpa kesan dan kedamaian.
Setiap insan pasti mendambakan kedamaian dirumah-rumah mereka, ketika hari raya agama mereka tiba bahagia menikmati suka cita bersama keluarga. Namun, kesenjangan dapat saja terjadi jika antar pemeluk tidak dapat memahami lingkungan sosialnya. Akibatnya konflik bisa terjadi, tahun-tahun kemarin sudah kita lalui dengan airmata, kesedihan dan kepanikan. Hancurnya hubungan antar umat beragama karena rusaknya solidaritas. Diantara pemeluk agama jangan adalagi perasaan dendam, mari saling bergandeng tangan kepada sesama. Jangan lupa ajak tetangga kita menikmati pesta yang kita rayakan, saling berbagi, memahami segela bentuk perbedaan dan tanamkan sikap pemaaf . Dengan demikian akan menjadi teladan bagi generasi kita kelak, bagi anak cucu yang akan menghadapi masa depan dengan ujian yang lebih berat.
Beberapa hal dapat menjadi bibit konflik antar umat beragama terutama dari kebiasaan kita sehari-hari. Yang mengakibatkan pemeluk agama lain menjadi tidak senang atau kurang menyukai kepercayaan kita. Kemungkinan terjadi karena ketimpangan sosial. Perlu dipertimbangkan, saat kita merayakan hari besar kita yang penuh kemeriahan, kemewahan, dan kesenangan, disaat seperti itu justru akan memancing kecemburuan sosial. Akan ada banyak ketimpangan disaat-saat seperti itu, bukan saja antar pemeluk agama, bahkan sesama pemeluk agamapun ketimpangan bisa terjadi dan berakibat sampai pada konflik fisik.
Ketimpangan sosial tanpa kita sadari ada di sekeliling tempat tinggal kita, disaat kita merayakan hari raya agama natal misalnya, dengan segala kemewahannya, hiasan, busana yang serba baru dan makanan yang istimewa yang nilainya berjuta-juta. Dibalik itu semua telah terjadi ketimpangan, dibelakang rumah kita komunitas yang tak berdaya yang mungkin bukan dari umat agama kepercaryaan kita, sedang menahan lapar dan dahaga, dalam pemukiman kumuh, dan banyak kesakitan yang menjangkiti tubuh mereka. Secara sepontan akan ada rasa kecemburuan sosial, mungkin tidak secepat yang kita bayangkan akan ada konflik namun perasaan yang sengaja dipendam dan menjadi bola api hingga memuncak menjadi kemurkaan dan menjadi penyulut konflik yang tak akan bisa diredam dalam masa yang singkat.
Budaya pamer atau sengaja menyembunyikan segala sesuatu kesenangan didepan komunitas lain juga akan cepat merambah konflik yang lebih luas. Konflik seperti ini diawali dengan perasaan ketidak samaan antar umat beragama sehingga mereka terpancing untuk saling menghina, saling cemooh dan berujung keinginan untuk saling menyakiti.
Dengan Natal kali ini bagaimana antar umat dapat membangun solidaritas, solusinya adalah menghilangkan perasaan perbedaan dengan komunitas agama lain. Caranya bagaimana kita mengikut sertakan orang lain dalam kesenangan kita, berbagi, perduli terhadap kebutuhan orang lain dan mawas diri. Ini akan mungkin tercapainya suatu keharmonisan, jika masing-masing penganut agama bisa menjalankannya.
Biodata Penulis
Nama : Saripuddin
Studi : Mahasiswa Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Jabatan : Kerohanian HIMA Sosiologi
TTL : Indramayu 09 Juli 1986
Alamat : Jl. Kenari Gg. Tanjung UH II/308 Miliran Yogyakarta 55165
No HP : 085228899105
MENGKRITIK DOMINASI BARAT DI DUNIA KETIGA
Oleh: Saripuddin*
Mengkritik dominasi teori barat sebagai anggapan wacana yang ideal didalam perkembangan dunia ketiga dirasa sangat perlu dan fardlu dilakukan, untuk membangun kesetabilan dunia pembangunan yang relepan dengan dunia empirik kita sendiri, tanpa menyamakan masalah yang ada di dunia pertama sebagai sebuah kiblat pengetahuan yang selalu kita sembah dan kita puja-puja. Selama ini kita hampir saja menjadi santri buta atas ajaran-ajaran yang digembor-gemborkan kalangan yang mengatas namakan modernisasi untuk pembangunan. Jika tidak secara hati-hati mencernanya kita akan semakin hancur didominasi pengaruh dunia pertama.
Apa yang selama ini dibangun oleh sebuah imej yang terbentuk dalam benak kita bahkan sudah menjadi persepsi yang membudaya bahwa barat dianggap sebuah kiblat atas kemajuan peradaban manusia yang sangat dominan, ditandai dengan adanya industri yang pertama kali terjadi di Inggris. Bagaimana agar pandangan masyarakat dunia ketiga mencontoh Negara-negara barat yang maju ? itulah yang selama ini tercermin dalam visi modernisasi yang sangat menguntungkan bagi dunia pertama dikawasan barat, akibatnya ini menjadi sumber menguatnya ketergantungan dunia ketiga terhadap Negara-negara maju.
Ketergantungan banyak meradang disegala bidang, meliputi banyak hal sehingga membuat pengaruh dunia barat semakin terasa di Indonesia. Lebih detailnya banyak bidang seperti keilmuan, politik, perekonomian, budaya, serta sendi-sendi kehidupan yang lain yang terjangkiti oleh dominasi barat. Bagaimana bisa ? justru selama ini kaum intelektual di Indonesia sepertinya mendukung ini terjadi, tanpa memilah-milah mana yang tidak berbenturan dengan budaya kita sehingga tidak mungkin diserap. Mengapa kemajuan yang ada dibarat sangat sulit diterapkan dinegara kita umumnya dinegara-negara berkembang, perlukah kita membuat gambaran minyak dan air yang tidak akan menyatu seperti halnya budaya barat yang coba dituangkan kedalam kebudayaan timur. Bahayanya hal ini justru akan merusak kesetabilan yang ada di dunia yang sedang terbangun dengan menggunakan jati diri budaya sendiri.
Kehancuran yang terjadi didunia ketiga sering kali ditimbulkan oleh campur tangan asing yang merusak kesetabilan sistem yang sudah ada, hal ini sudah banyak dibuktikan dalam sejarah Negara-negara yang runtuh. Isu yang muncul pertama kali biasanya terkait dengan isu politik, Negara barat yang sudah maju seakan mengadu domba Negara berkembang yang menggunakan sistem patriarki dengan meyodorkan sistem demokratis. Lambat laun politik semakin memanas menjadi berbagai macam peristiwa konflik yang merugikan bagi kesetabilan dunia berkembang.
Isu pemberantasan teroris belum lama ini menjadi wacana yang ditanamkan Negara Adidaya kepada Negara-negara lain diseluruh dunia. Suatu yang mengerikan, bagaimana kata teroris dijadikan sebuah senjata paling ampuh yang akan menghancurkan lawan dari apa yang paling dimusuhi oleh dunia barat ( Amerika dan sekutunya ). Keberadaan isu teroris yang sangat ditakutkan negara Islam menjadi imej baru untuk saling memusuhi mana yang sebenarnya teroris dan mana yang bukan teroris, atau bisa saja menjadi pertarungan teroris kakap dan teroris kelas teri sebagai sebuah ungkapan dominasi teroris dunia pertama terhadap musuhnya di dunia ketiga yang merupakan orang-orang tak berdaya, seolah-olah mereka memerangi teroris tingkat teri tanpa merasa dirinya sendiri sebagai teroris, membantai ribuan nyawa yang menjadi incarannya dan mengklaim dirinya sebagai pahlawan. Sangat mengerikan lagi ketika hal itu diikuti oleh Negara lain yang terinfeksi oleh pengaruhnya, berbagai Negara dari belahan dunia bersama-sama memerangi teroris yang merupakan warga negaranya sendiri yang amat ketakutan dan tidak memperoleh perlindungan manapun dibawah kolong langit semesta ini. Akibatnya satu persatu Negara yang memerangi teroris dilanda konflik baru berupa bermacam peristiwa yang sangat mengerikan seperti halnya perang saudara, layaknya ayah yang memburu anaknya untuk di hancurkan demi kepentingan orang luar. Isu teroris ini justru membuat banyak kalangan menjadi marah dan merasa tidak ada keadilan selain berusaha melakukan perlawanan. Akan tiba saatnya Negara-negara yang sedang berkembang menjadi tidak stabil dan hilangnya harmoni disebuah Negara karna diancam dengan bayang-bayang pemberontak, perang, bom bunuh diri, dan saling curiga.
Dalam hal perekonomian yang mengarah kepada modernisasi menjadi sangat fardlu untuk dikritik juga. Adanya industrialisasi besar-besaran di dunia agraris seperti Indonesia telah menimbulkan dampak kerusakan lingkungan yang teramat besar. Sampai-sampai kita dijadikan ladang eksploitasi bagi kebutuhan Negara-negara maju yang menjadikannya semakin kaya dan kita hanya diberikan ampas peninggalannya berupa bencana alam. Yang dipertanyakan adalah anggapan kita mengenai persepsi bahwa industrialisasi adalah konsep ideal dinegara kita yang mencontoh Negara dunia pertama yang telah maju. Sedikit demi sedikit penerapan budaya industri dalam pola perekonomian kita membuat ketergantungan terhadap Negara dominasi dunia pertama bertambah. Anehnya selalu saja barat yang menjadi sorotan orang-orang timur untuk dijadikan contoh dalam segala bidang. Namun berlahan akan kita sadari bahwa konsep industrialisasipun akan menghancurkan bagi dunia kita, terbukti kita semakin terpojokan oleh ketergantungan terhadap dunia pertama yang menjadikan kita mudah di eksploitasi serta menjadi semakin tidak stabil.
Budaya negri kita sendiri saat ini tidak luput dari virus westernisasi yang merusak akal budi ketimuran. Hangus sudah budaya kita, jati diri bangsa dan larutnya norma-norma, tergerus oleh pengaruh budaya barat. Merasa tanpa malu-malu masyarakat kita meniru budaya barat yang sangat bertentangan dengan jati diri kita yang sebenarnya, alasan yang diungkapkan mereka hanyalah demi kebebasan, demokratis, liberalis, dan ungkapan-ungkapan yang memuakan ditelinga ibu pertiwi yang sudah tak berbusana lagi.
Lihat saja generasi kita, generasi bangsa yang seharusnya dapat membanggakan mempunyai jati diri dan tanggung jawab mengharumkan Indonesia namun mereka justru hanya dapat meniru, mencontek gaya dan mode yang berbau barat. Tidaklah salah jika hal yang ditiru merupakan suatu yang positf, hanya saja pengaruh barat yang dominan selama ini menjadi bencana moralitas bagi mental bangsa. Semakin ketara, kita lihat kehidupan didunia nyata bahwa pengaruh modernisasi bagi Negara ini hanyalah menuju manusia yang konsumtif. Masyarakat yang senang mewah-mewah, serakah, dan banyaknya persaingan tidak sehat dalam segala bidang. Motivasi individu yang sangat tinggi untuk maju dan menikmati kemewahan tanpa memperhatikan lingkunagnnya yang semakin suram. Banyak fenomena yang dapat digambarkan, seperti masalah korupsi yang semakin memburuk dinegara kita umumnya dinegara dunia ketiga adalah akibat dari motivasi atas budaya konsumtif yang berakibat serakah, menghalalkan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan, sehingga banyak terjadi persaningan tidak sehat. Keadaan seperti ini menjadikan Negara berkembang rawan konflik sehingga merusak kestabilan dan menghambat pembangunan. Masalah budaya konsumtif belum lama ini tercium dikalangan legislative yang ingin membagi-bagikan leptop tanpa memperdulikan keadaan bangsa yang sedang sekarat, ini salah satu cerminan bangsa yang selalu ingin menikmati kemewahan dari hasil modernisasi tanpa ada upaya produktif. Dari potret dunia berkembang memang hal ini terjadi dimana-mana. Mereka berlomba-lomba menggunakan produk modern tanpa mengimbangi jiwa mereka dengan semangat jiwa modern yang produktif.
Gaya hidup budaya timur kini sudah mengering, hampir disemua pelosok Nusantara ketahanan kebiasaan, adat, dan budaya lokal sudah ternoda dari adanya modernisasi yang tersebar lewat media. Wanita- wanita masa kini berlomba-lomba tampil ideal dengan gaya-gaya ala wanita Eropa atau wanita ala Amerika, yang kebanyakan sudah kebal dengan rasa malu yang selama ini dianggap sebagai budaya timur, mereka lebih memperdulikan trend dan mode masa kini daripada menurutkan norma. Seakan kita selalu bertannya-tanya apa yang membedakan kehidupan ditimur dan dibarat saat ini ?
Derasnya pengaruh barat terhadap dunia timur sudah sulit dihentikan, campur tangan dunia pertama sering masuk mengobok-obok sendi kehidupan bangsa dunia ketiga, sudah saatnya kita bisa membendung setidaknya meminimalisir pengaruh dunia pertama, kalau tidak selamanya bangsa kita tercinta akan terus dieksploitsi seperti Negara jajahan yang tidak berdaulat. Kemandirian adalah satu-satunya jalan terbaik meningkatkan pembangunan khususnya di kawasan dunia ketiga yang sedang berkembang seperti Indonesia. Sekali-kali jangan kita samakan dunia kita ini dengan dunia barat, karna bagaimanapun kita sangat berbeda dalam banyak hal mengenai kebudayaan, segi ekonomi, geografis, politik, dan kemajemukan sebagai karakteristik kehidupan yang ada di Nusantara.
Jalan terbaik bagi pembangunan kita adalah bagaimana mebangun stabilitas, pembangunan yang sesuai dengan keadaan realita negeri kita sendiri. Pola stabilitasi sangat mungkin dengan meperhatikan keberadaan lingkungan sekitar, membenahi fungsi yang sesuai dengan kebutuhan kita. Stabilitas ini meliputi pembangunan berupa sumber daya alam dan keberadaan sumber daya manusia agar terbentuk, dikelola dengan ciri khas bangsa sendiri tanpa ada campur tangan asing.
Mudahnya dunia ketiga seperti kita untuk diekplotasi oleh Negara-negara maju merupakan awal kehancuran, setidaknya kita dijajah secara ekonomi, budaya, dan politik. Semakin terlihat dari adanya industrilisasi diwilayah kedaulatan kita sendiri yang dikuasai pihak asing akan menuai kesengsaraan bagi rakyat Indonesia. Banyak kasus industrialisasi yang justru tidak dapat membawa kesejahteraan bagi masyarakat lokal seperti ditanah Papua yang bertabur emas, keberadaan hutan di Kalimantan dan Sumatra yang begitu kaya, batu bara, dan minyak bumi yang selalu mengguntungkan pihak luar dan menuai bencana bagi masyarakat lokal.
Sekali lagi kemajuan pembangunan bukan berarti dapat mencapai kemewahan seperti yang dimiliki oleh Negara-negara dunia peratama, tapi bagaimana mambangun stabilitas agar semua sistem yang ada di Negara kita dapat berfungsi secara maksimal, pembenahan agar semua harapan-harapan dari masyarakat dapat dipenuhi yang merupakan ciri menuju masyarakat madani.
-
Identitas penulis:
Nama: Saripuddin
Mahasiswa Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Tempat Tanggal Lahir : Indramayu 09 juli 1986
Alamat: Jl. Kenari Gg. Tanjung UH II/308 Miliran
Yogyakarta 55165
No Tlp: 085228899105 (HP)
UMKM
Analisis Masih Lemahnya Kinerja UMKM ; Porsi Kredit Korporasi Meningkat
Kinerja UMKM sangat dipengaruhi oleh beban psikologis. Adanya trauma perasaan was-was dan juga ketakutan dalam melakukan langkah inovatif. Mungkin selama ini tidak adanya perlindungan untuk membuat mereka nyaman dalam melakukan usaha. Seharusnya mereka diberiakan rasa aman, tidak cuma diberiakan modal yang justru mereka takutkan akan membunuh kelangsungan usahanya jika nanti tak dapat kembalikan modal pinjaman. Banyak kredit macet karena para pelaku produksi sedang mengalami masalah. Seandainya pihak perbankkan tidak perlu melakukan penekanan dan ancaman sepereti penyitaan jaminan yang justru akan membunuh mata pencarian.
Perlindungan terhadap UMKM menjadi sangat penting. Perlu dibentuknya lembaga perlindungan sebagai wali para pengusaha mikro atau usaha kecil menengah sebagai wadah lembaga yang melindungi para pengusaha kecil. Diharapkan jika kenyamanan dalam mengembangkan usaha itu ada, niscaya usaha akan dapat berkembang.
Tidak hanya diberikan modal, perlu juga adanya pengawasan terhadap pelaku usaha kecil menengah. Pengawasan ini bertujuan akan adanya saling kepercayaan antara pihak pemberi kredit dan pengusaha. Hingga pengusaha yang diberikan pinjaman dengan sendirinya melakakukan produksi maksimal. Badan perlindunganm inilah yang melakukan pengawasan juga penyuluhan untuk meningkatkat kemampuan produksi. Diharapkan mereka juga pengenalan tekhnologi yang lebih relevan guna memenuhi kebutuhan produksinya.
Yang kedua masalah pengutamaan korporasi justru menandai kuatnya kapitalisme di negeri kita. Bila seperti ini benar apa kata Marxis. Negara hanaya dijadikan alat bagi kapitalis untuk memeras kaum ploletar. Kelihatan hasilnya yang kaya makin kaya yang miskin akan semakin miskin. Bila perbankan lebih memihak korporasi maka usaha kecil menengah akan kalah dalam persaingan kepercayaan dalam mendapatkan pinjaman. Alangkah baiknya negaralah yang wajib mengadakan penjaminan untuk mengatasi masalah kridit macet dengan melakukam kebijakan-kebijakan tertentu.
Jika porsi kredit korporasi meningkat dan menurunnya kredit usaha kecil menengah, menjadi sangat bertentangan dengan upaya menuju pemberdayaan masyrakat. Salah satu nya :
Menekankan pada proses memberikan atau mengalihkan sebagian kekuasaan, kekuatan atau kemapuan kepada masyarakat lokal agar lebih berdaya dan mempunyai kemampuan untuk melakukan perubahan secara individu maupun kolektif. (kutipan catatan kuliah)
Begitupun dengan perlindungan atas kenyamanan berusaha, sangat relevan dari proses bagaimana memberdayakan masyarakat dalam hal ini UMKM. Pelaku usaha kecil menengah harus dilindungi dari tekanan-tekanan. Mungkin diberlakukan peminjaman tanpa syarat pada umumnya juga tanpa jaminan. Cukup usaha itu sendiri yang akan menjamin sebagai simbol kepercayaan saling amanah.
Ada perlindungan sehingga mereka dapat memperjuangkan hak-hak mereka secara terbuka dan tanpa tekanan (proses yang mendorong pemberdayaan masyrakat).


Komentar Terakhir